Text
Kekerasan Komunal: Anatomi dan Resolusi Konflik di Indonesia
Akses terbatas - hanya untuk guru, tendik, dan orang tua
___
Ketika rezim Orde Baru mulai melemah kekuasaannya dan negara (state) mulai kehilangan sebagian besar kontrolnya terhadap rakyat (society) maka pada periode pertengahan 1997, konflik horizontal (konflik komunal atau kerusuhan sosial) telah terjadi di beberapa daerah yang sebelumnya terlihat "stabil Konflik berbentuk kekerasan ini hingga sekarang telah menjadi sumber kensauan banyak kalangan karena di samping lamban diselesaikan oleh negara, juga telah menimbulkan korban yang tidak sedikit. Aspek kemanusiaan menjadi salah satu dan sekian keprihatinan masyarakat akibat konflik yang terjadi. Begitu banyaknya manusia dan harta benda yang menjadi korban
Berbagai ragam hipotesis dan penjelasan dikemukakan oleh banyak pihak untuk menganalisa konflik yang terjadi. Ada pandangan bahwa transisi dan otoriterisme menuju demokrasi, dalam konteks ini adalah munculnya gerakan reformasi di Indonesia pada 1998 konflik-kanflik komunal. Ada diagnosa lain bahwa konflik ini diduga sebagai salah satu variabel perantara terjadinya dilatarbelakangi oleh tidak adanya kepastian nilai (anomie) dan kekosongan kepemimpinan (anarki) pada masa reformasi. Ketidakadilan (marginalisasi), kesenjangan ekonomi, dan rusaknya jaringan sosial budaya lokal pada masa Orba juga sering disebut-sebut sebagai faktor utama pecahnya konflik di Indonesia.
Dilatarbelakangi oleh keprihatinan dan usaha untuk menyumbangkan pemikiran bagi penciptaan perdamaian di Tanah Air, para penulis menghadirkan buku ini. Buku ini berusaha untuk menjawab tiga pertanyaan krusial
1. Bagaimana keterlibatan negara dan masyarakat dalam proses resolusi konflik di daerah?
2. Sejauhmana peran negara dan masyarakat dalam proses resolusi konflik di daerah?
3. Bagaimana pola hubungan negara dan masyarakat dalam resolusi konflik di daerah?
Tidak tersedia versi lain