Text
Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan
Kampung merupakan wilayah yang terpinggirkan, biang kumuh, rusuh, dan terkesan udik. Begitula kampung diidentifikasikan. Belakangan kampung menjadi menarik tatkala beberapa kejadian ketidak adilan dan keserakahan kaum kapitalis berusaha untuk menggeser kampung untuk dijadikan pusat bisnis yang mempunyai konotasi simbol kota.
Kampung kembali bergolak, keunikan dan keudikan menjadi wacana baru dalam kehidupan bersama, kekerasan dan kanibalisme merasuki penduduk kampung. Ada yang hilang dalam kampung kita, tatkala "fitrah manusia" tertukar dengan pelbagai sajian material dan kenyamanan dunia. Kemajuan teknologi informasi menjadikan kampung bermetamorphosis menjadi kota dunia, peta geografis yang memisahkan kampung dan kota tertebas oleh kemajuan teknologi, kampung dibunuh secara diam-diam.
Begitu halnya dengan banyaknya penyair kampungan yang kehilangan hak-haknya saat ia ingin menyentuh ruang publik.
Media massa secara otoriter menentukan kebijakan untuk menjalankan sebuah roda industri pers dengan mengambil sikap bahwa puisi adalah sebagian kecil untuk mengangkat bisnisnya karena tidak semua mempunyai selera pada sajian puisi. Wajar apabila ratusan bahkan ribuan penyair kampungan tak tetampung di media massa komersial dan diam-diam bunuh diri untuk tidak berkarya.
Maka kehadiran antologi puisi dapat menjadikan dewa penyelamat bagi mereka yang terdepak dari media massa.
Sehingga sedikit memberikan ruang gerak bagi kreatifitas kepenyairannya. Dan buku ini merupakan salah satu penampungan dari beberapa penyair kampungan yang berasal dari Madura yang mencoba untuk merefleksikan hati nuraninya terhadap bangsa yang lagi sekarat dan akan meninggalkan kampungnya
Tidak tersedia versi lain