Text
Gomer, Aku Cinta Kamu!
Akses memerlukan izin dan pendampingan. Silakan hubungi pustakawan.
___
PAGI HARINYA, anak-anaknya bangun. Mereka terkejut melihat ibunya ada di kamar makan. Ketiganya serempak datang sambil memeluknya, "Mama, jangan pergi lagi! Jangan tinggalkan kami. Kami rindu Mama! Kami sayang kepada Mama. Lihatlah Papa di sana, setiap hari mengatakan bahwa Mama pasti kembali, dan sekarang sudah ada di sini. Jangan pergi lagi, Mama!"
Rindu anak yang memelas, rindu yang menimbulkan belas kasihan. Dan berhari-hari ia mencoba memberi hati, memberi kasih, membenamkan diri dalam rumah, tidak terusik oleh kerinduan yang nista. Ia mencoba menyayangi ans-anaknya, dan suaminya. Ia mencoba menutup kuping terhadap omongan tetangga. Ia merasa tetangga-nya sama saja dengan dirinya.
Suatu senja yang lain, tatkala genta-genta cinta yang nista menggebu-gebu dalam dadanya, dan lirik mata para kekasih yang ditinggalkan sementara mengarah padanya, ia pun melupakan anak-anak yang lahir dari rahimnya.
la minggat. la pergi dengan para kekasihnya.
"NAH, kaulihat hasilnya? Lihat sebelah sana, per-kelahian semakin hebat. Mengertikah engkau apa yang engkau katakan?"
"Aku tidak mengerti. Kalau begitu, suruh mereka berhenti berkelahi! Suruh segera! Kalau tidak, menara ini tidak bakal selesai. Aku perlu mereka. Katakan kepada mereka bahwa damai kita perlukan... teriak sang
Pemimpin sambil memukul-mukul kepalanya. "Mereka juga tidak mengerti bahasa saya."
"Jadi?" sang Pemimpin membantingkan diri di tanah. la bangkit lagi dan menengadah ke atas. Suara gaduh semakin riuh. "Kalau begitu, siapa yang dapat berbicara kepada mereka?" tanya sang Pemimpin putus asa.
Tidak tersedia versi lain