Text
Semangat Indonesia: suatu perjalanan budaya
INDONESIA meliputi jajaran kepulauan yang terdiri dari tiga ribu lebih pulau, tersebar sepanjang tiga ribu mil, terbentang antara Asia Tenggara hingga Papua Nugini.
Selain luas secara geografis, Indonesia luas pula dalam keragaman susunan budaya dan kesenian tradisional.
Kesenian tradisional ini dan bagaimana ia tumbuh subur, menyesuaikan diri, dan bertahan untuk tetap hidup merupakan tema pokok dalam Semangat Indonesia. Buku ini merekam perjalanan selama tiga bulan menjelajahi kepulauan ini, yang dilakukan oleh penulis Umar Kayam dan juru foto Harri Peccinotti suatu perjalanan budaya menuju bangsa Indonesia itu sendiri.
Di desa Kadisobo, Jawa Tengah, ada pertunjukan wayang kulit yang merupakan media bagi desa itu untuk mengukuhkan kepercayaan tradisional mereka kepada keselarasan alam semesta. Di Irian Jaya, propinsi Indonesia yang paling timur, ksatria-ksatria Asmat mengukir mbis, tiang totem yang membangkitkan kembali arwah nenek moyang mereka.
Di Kamasan, desa para seniman dan pengrajin di Bali selatan, pelukis Nyoman Mandra mengolah cerita dari Ramayana, cerita epos klasik yang selalu merupakan sumber ilhamnya. Tidak seperti para pelukis Bali lainnya, dengan seni komunal mereka, Mandra justru bekerja sendiri. Namun karyanya memperkuat jiwa persatuan masyarakat, melalui nilai-nilai yang terpateri dalam cerita-cerita tradisional mengenai kebaikan dan kejahatan. Di Aceh, sebuah kelompok tari seudati melakonkan kembali saat penting dalam sejarah Aceh, ketika hanya Aceh yang belum terkalahkan oleh Belanda. Tarian ini, seperti halnya wayang kulit dan lukisan dari Ramayana, selain bersifat menghibur, sekaligus mengandung petunjuk.
Tidak semua kesenian tradisional Indonesia tumbuh subur. Ada yang telah menyesuaikan diri dengan permintaan para turis dan pengumpul karya seni. Ada pula, seperti perahu pinissi, tidak laku lagi secara komersial. Namun, di tengah bangsa yang menghargai masa lalunya, sedang dilakukan penyesuaian antara kemajuan dan tradisi. Dinamisme budaya inilah yang diselidiki oleh Umar Kayam dan Harri Peccinotti.
Tidak tersedia versi lain